Kebiasaan Nyeker Bikin Karyawan Facebook Bertengkar

JakartaMark Zuckerberg dan Sheryl Sandberg bisa dibilang dua orang terpenting di Facebook. Zuck selaku CEO mengatur sisi teknis, sedangkan Sandberg memegang bagian sales dalam tanggung jawabnya sebagai COO.

Menariknya, dua aspek tersebut ibarat dua sisi mata uang jika dilihat dari budaya para pegawainya. Para teknisi bekerja dalam diam, berusaha senyaman mungkin, dengan usia pekerja masih muda, serta didominasi laki-laki. Sedangkan sales terkesan berisik, dan lebih beragam perihal usia dan jenis kelamin pegawainya.

Kemudian, mayoritas para teknisi di Facebook bisa menjalani karir di sana tanpa bertemu satu pun orang sales. Di sisi lain, hanya para pegawai sales terbaik yang bisa membangun relasi dengan para teknisi, misalnya dalam menyampaikan kendala teknis yang dipermasalahkan oleh klien.


Ya, kedua kubu yang bisa dibilang jarang berinteraksi di kebanyakan kantor milik Facebook. Bahkan, di kantor pusatnya di Menlo Park, California, Amerika Serikat, mereka bekerja secara terpisah di gedung berbeda.

Menariknya, sudah mereka jarang bertemu, sekalinya dipertemukan malah memunculkan masalah. Salah satunya seperti yang terjadi pada 2015 lalu.

Facebook diketahui memiliki kantor di New York, AS. Di sana, para teknisi dan sales memang bekerja di lantai terpisah, namun tetap memiliki kantin yang sama.

Para pegawai sales kerap membawa klien ke kantor. Dalam kunjungan itu, tak jarang para klien diajak makan di kantin tersebut. Nah, masalah timbul dari perilaku para teknisi yang sering dijumpai di sana.

Mantan pegawai sales Facebook mengatakan bahwa para teknisi pergi ke kantin tanpa mengenakan sepatu. Bahkan, ia mengaku sering melihat mereka pergi ke kamar kecil bertelanjang kaki, dan tetap nyeker saat masuk ke kantin.

“Hei, kita punya klien. Tolong tetap tanamkan di kepala bahwa ini adalah lingkungan profesional,” ujar salah satu karyawan lainnya, sebagaimana detikINET kutip dari CNBC, Senin (28/1/2018).

Ujaran tersebut ternyata memantik bara api di internal kantor Facebook di New York. Sejumlah mantan pegawai raksasa jejaring sosial tersebut mengatakan bahwa insiden tersebut dikenal dengan ‘shoegate’. Ada juga yang mengatakan bahwa itu merupakan salah satu bentuk bentrokan budaya.

Debat pun tak terhindarkan, dengan pentingnya peran departemen masing-masing jadi topik utama. Para teknisi dengan perannya dalam membangun produk, sedangkan karyawan sales berperan dalam menjaga Facebook tetap ‘menyala’ dengan menarik para pengiklan.

Insiden tersebut diketahui tidak membuat Facebook menerapkan kebijakan baru terkait penggunaan sepatu bagi karyawan. Walau demikian, pada 2016, perusahaan tersebut menyediakan ruang tambahan di New York bagi dua departemen terkait. (mon/fyk)