‘Smart City Itu yang Pintar Orangnya’

Jakarta

Jika mendengar kata smart city, mungkin yang terbayang di kepala adalah Internet of Things (IoT) atau mungkin implementasi. Padahal, smart city disebut bukan hanya soal “kepintaran” kotanya melainkan lebih ke faktor orangnya.

“Dilematis ketika kota itu sudah menyebutkan smart city. Kadang-kadang saya masih berpikir pengartian smart city di masing-masing orang itu masih berbeda-beda,” ujar Adi Aviantoro, Indonesia Country Manager Value, ASEAN Solutions Dassault Systemes, di Jakarta, Rabu (23/1/2019).

“Kadang implementasi 4G, akses internet ke seluruh kecamatan, sudah disebut smart city,” katanya menambahkan.

Lebih lanjut, menurut Adi, konsep atau pengertian smart city itu kembali ke manusianya. Hal ini soal pola pikir seperti apa yang dipegang oleh masyarakat di kota bersangkutan.

“Smart city itu kembali lagi ke manusianya. Kalau manusianya itu mindsetnya sudah berubah ke yang lebih baik, nah di situlah yang kita jadi titik acuan bahwa kota itu sudah smart,” kata Adi.

“Kalau manusianya sudah tertib ke arah yang lebih baik, ke depannya otomatis efeknya adalah ke fasilitas. Jadi kotanya akan lebih smart. Intinya seperti itu,” ucapnya menambahkan.

Salah satu contoh tertib yang dimaksudnya adalah ketika terjadi bencana. Misalnya, yang sebelumnya panik berkelanjutan ketika bencana, paniknya dapat diredam dan dapat bergerak ke arah jalur evakuasi secara tertib.

(mon/krs)